Training Risk Management Perbankan 2026: Strategi Mengelola Risiko Kredit, Operasional, Likuiditas, dan Kepatuhan Bank
Deskripsi Pelatihan Risk Management Perbankan
Banyak lembaga keuangan menghadapi tantangan ekstrem dalam menjaga volatilitas neraca dan kualitas portofolio di tengah ketidakpastian makroekonomi tahun 2026. Tingginya ketidakpastian pasar global, lonjakan suku bunga, serta dinamika portofolio pinjaman menuntut penataan ulang arsitektur manajemen risiko perbankan secara terintegrasi. Pendekatan silo yang selama ini diterapkan terbukti gagal memitigasi efek domino dari ketidaklayakan kredit terhadap ketahanan likuiditas dan kepatuhan regulasi.
Program pengembangan kapabilitas ini disusun untuk merespons kebutuhan mendesak industri jasa keuangan dalam menyelaraskan Risk Appetite Framework dengan eksekusi strategi bisnis bulanan. Melalui pendekatan kuantitatif dan kualitatif, peserta diajak membedah skenario stress testing terkini, kerangka Basel III/IV, serta tata kelola tata tertib regulator yang semakin ketat. Fokus utama program ditekankan pada ketahanan operasional, transparansi pelaporan, serta mitigasi potensi pembengkakan biaya pencadangan aset produktif.
Evaluasi operasional di berbagai bank komersial dan daerah memperlihatkan bahwa sinergi antara unit lini pertama (business line) dan lini kedua (risk & compliance) kerap terhambat oleh perbedaan KPI dan metodologi penilaian. Dalam pelatihan ini, materi dirancang komprehensif untuk menyatukan cara pandang seluruh pemangku kepentingan agar pengambilan keputusan kredit dan likuiditas tetap presisi tanpa mengorbankan kecepatan ekspansi bisnis.
Setiap pembahasan menyajikan studi kasus riil mengenai penanganan kredit bermasalah, pengawasan likuiditas harian, pencegahan kegagalan sistem operasional, serta pemenuhan standar regulasi OJK dan Bank Indonesia. Dengan demikian, institusi Anda mampu mengamankan profitabilitas sekaligus membangun benteng pertahanan bisnis yang kokoh.
Mengapa Pelatihan Risk Management Perbankan Ini Penting
Dinamika lanskap perbankan tahun 2026 menghadirkan komplikasi risiko yang makin terkoneksi erat satu sama lain. Sebuah tekanan pada portofolio kredit ritel atau komersial dapat secara instan mengganggu arus kas dan rasio kecukupan likuiditas, yang selanjutnya memicu risiko reputasi dan pemeriksaan intensif dari otoritas pengawas. Tanpa sistem pemantauan risiko terpadu, manajemen berisiko mengambil keputusan strategis berdasarkan asumsi yang keliru.
Peningkatan kompleksitas transaksi digital dan integrasi ekosistem keuangan terbuka (open banking) juga memperluas permukaan risiko operasional. Kerentanan teknologis, kegagalan vendor pihak ketiga, hingga ketidaksesuaian prosedur internal berpotensi menimbulkan kerugian finansial langsung maupun kerugian immaterial yang sulit dipulihkan.
Kepatuhan terhadap regulasi perbankan terkini bukan lagi sekadar checklist formalitas, melainkan pilar utama keberlanjutan usaha. Bank yang gagal memperbarui kerangka kerja manajemen risikonya akan menghadapi sanksi administratif, pembatasan produk baru, serta penurunan kepercayaaan investor dan nasabah.
Inisiatif peningkatan kompetensi ini membekali jajaran manajemen dan praktisi bank dengan perkakas analisis modern, metodologi stress testing mutakhir, serta strategi mitigasi proaktif. Langkah ini menjadi investasi vital untuk memastikan kesehatan finansial bank tetap terjaga di atas standar minimum regulasi.
Tantangan yang Sering Dihadapi Organisasi/Perusahaan
- Meningkatnya rasio Non-Performing Loan (NPL) dan Loan at Risk (LAR) akibat tekanan ekonomi pada sektor-sektor usaha produktif.
- Kesulitan dalam merumuskan skenario Stress Testing likuiditas yang akurat di tengah tingginya volatilitas dana pihak ketiga (DPK).
- Terjadinya hambatan komunikasi dan misalokasi wewenang antara Risk Management Unit dan Business/Marketing Unit.
- Kurangnya keterpaduan data finansial dan operasional dalam menghitung Capital Adequacy Ratio (CAR) secara real-time.
- Lambatnya adaptasi terhadap perubahan ketentuan regulasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI).
- Ancaman kegagalan sistem TI dan serangan siber yang berdampak langsung pada kelangsungan layanan operasional harian.
- Tingginya ketergantungan pada proses manual dalam penilaian kelayakan kredit komersial dan korporasi.
- Ketidakpastian estimasi pembentukan Penyisihan Penilaian Aset Produktif (PPAP) yang menggerus laba bersih bank.
- Terbatasnya pemahaman staf operasional mengenai Early Warning Indicators (EWI) untuk potensi fraud internal dan eksternal.
- Tantangan pemenuhan kriteria ESG (Environmental, Social, and Governance) dalam kerangka penyaluran kredit berkelanjutan.
Risiko Jika Tidak Ditangani
- Penurunan drastis tingkat kesehatan bank (TKS) yang memicu intervensi khusus dari lembaga pengawas keuangan.
- Pembengkakan beban biaya cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang merusak target profitabilitas tahunan.
- Krisis likuiditas mendadak akibat ketidakmampuan memprediksi arus kas keluar secara cepat dan presisi.
- Pengenaan sanksi denda finansial dan pembatasan operasional bisnis oleh regulator akibat pelanggaran kepatuhan.
- Kerusakan reputasi institusi perbankan yang menyebabkan keraguan nasabah dan pelarian dana simpanan secara masif.
Tujuan Pelatihan Risk Management Perbankan
- Memahami arsitektur integrasi risiko kredit, operasional, likuiditas, dan kepatuhan sesuai standar Basel teranyar.
- Mampu menyusun dan mengimplementasikan Risk Appetite Statement (RAS) serta Risk Tolerance yang selaras dengan rencana bisnis bank.
- Menguasai teknik analisis kuantitatif untuk mengukur Probability of Default (PD), Loss Given Default (LGD), dan Exposure at Default (EAD).
- Meningkatkan kemampuan merancang simulasi Stress Testing likuiditas dan kecukupan modal dalam berbagai skenario kritis.
- Mengembangkan kerangka kerja Operational Risk Management (ORM) berbasis Risk and Control Self-Assessment (RCSA) dan Key Risk Indicators (KRI).
- Memastikan seluruh kebijakan operasional bank mematuhi regulasi perbankan nasional maupun internasional terkini.
- Membuat mekanisme Early Warning System (EWS) untuk mendeteksi potensi pemburukan kualitas kredit secara dini.
- Mendorong terbentuknya budaya sadar risiko (risk-aware culture) di seluruh tingkatan organisasi bank.
Manfaat Pelatihan Risk Management Perbankan
- Peningkatan akurasi analisis risiko kredit sehingga meminimalkan pembentukan NPL baru di masa mendatang.
- Optimalisasi pengelolaan struktur likuiditas bank untuk menjaga keseimbangan antara profitabilitas dan keamanan dana.
- Penghematan alokasi modal kerja melalui perhitungan bobot risiko aset yang lebih efisien dan terukur.
- Proses pengambilan keputusan kredit yang lebih cepat, efisien, dan memiliki perlindungan hukum yang kuat.
- Peningkatan tingkat kepatuhan regulasi sehingga meminimalkan risiko temuan audit dan sanksi otoritas.
- Perlindungan maksimal terhadap aset operasional dan infrastruktur teknologi bank dari gangguan tak terduga.
- Kejelasan pembagian peran Three Lines of Defense dalam eksekusi operasional sehari-hari.
- Penurunan frekuensi dan dampak finansial dari insiden kerugian operasional (loss events).
- Peningkatan kepercayaan investor, pemegang saham, dan pemeringkat kredit terhadap tata kelola bank.
- Kesiapan bank dalam menghadapi skenario krisis keuangan global maupun regional.
Sasaran Peserta
- Board of Directors (BOD) dan Executive Management Perbankan.
- Head of Risk Management, Risk Managers, dan Analyst Risk Team.
- Head of Compliance, Compliance Officers, dan Legal Corporate Team.
- Head of Credit Risk, Credit Approver, Credit Analyst, dan Remedial Team.
- Treasury Division Heads, Liquidity Managers, dan Asset Liability Management (ALCO) Team.
- Internal Auditor dan Quality Assurance Specialist.
- Operational Risk Officers dan Head of Operational Division.
- Business Unit Heads, Commercial Banking Managers, dan Corporate Banking Team.
Materi Pelatihan Risk Management Perbankan
Modul 1: Lanskap Risiko Perbankan 2026 & Makroekonomi
- Tinjauan dinamika ekonomi global, tingkat suku bunga, dan dampaknya pada perbankan.
- Integrasi regulasi OJK, BI, dan standar Basel III/IV.
- Evolusi interkoneksi risiko kredit, likuiditas, operasional, dan kepatuhan.
- Penyelarasan strategi bisnis bank dengan toleransi risiko institusi.
Modul 2: Risk Appetite Framework (RAF) & Governance
- Formulasi Risk Appetite Statement (RAS) dan penentuan Limit Risiko.
- Peran Board of Commissioners dan Directors dalam pengawasan risiko.
- Penerapan Three Lines of Defense yang efektif di era digital.
- Key Risk Indicators (KRI) sebagai instrumen navigasi risiko.
Modul 3: Manajemen Risiko Kredit Mutakhir
- Pengukuran ekspektasi kerugian kredit (Expected Credit Loss – ECL).
- Pemodelan rating dan scoring kredit untuk segmen Ritel, SME, dan Korporasi.
- Teknik evaluasi kolateral, jaminan, dan struktur mitigasi kredit.
- Strategi pengelolaan Loan at Risk (LAR) dan Restrukturisasi Kredit.
Modul 4: Stress Testing Kredit & Portofolio Assessment
- Metodologi penyusunan skenario stress testing (Baseline, Adverse, Severely Adverse).
- Simulasi dampak makroekonomi terhadap peningkatan NPL dan CKPN.
- Analisis konsentrasi portofolio kredit pada sektor-sektor berisiko tinggi.
- Penerapan hasil stress testing dalam perencanaan modal bank.
Modul 5: Management Risiko Likuiditas & ALM
- Pengelolaan Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio (NSFR).
- Mekanisme pengawasan intraday liquidity dan cash flow profiling.
- Strategi diversifikasi sumber pendanaan dan pengelolaan DPK.
- Penyusunan Contingency Funding Plan (CFP) saat terjadi krisis likuiditas.
Modul 6: Asset Liability Committee (ALCO) & Interest Rate Risk
- Peran strategis ALCO dalam merespons fluktuasi suku bunga.
- Pengukuran Interest Rate Risk in the Banking Book (IRRBB).
- Strategi hedging dan penggunaan instrumen derivatif.
- Simulasi dampak perubahan suku bunga terhadap Net Interest Margin (NIM).
Modul 7: Operational Risk Management (ORM) Architecture
- Kerangka identifikasi dan asesmen risiko operasional.
- Penerapan Risk and Control Self-Assessment (RCSA) secara partisipatif.
- Pengelolaan Loss Event Database (LED) dan analisis insiden.
- Mitigasi risiko operasional pada transaksi digital dan open API.
Modul 8: Cybersecurity & Operational Resiliency
- Integrasi IT Risk Management dengan Operational Risk Framework.
- Penyusunan Business Continuity Management (BCM) dan Disaster Recovery Plan (DRP).
- Manajemen risiko pihak ketiga (Third-Party Risk Management / Vendor Risk).
- Pengujian ketahanan operasional (Operational Resilience Testing).
Modul 9: Compliance Management & Legal Risk Mitigation
- Identifikasi regulasi baru OJK/BI dan analisis dampaknya pada produk bank.
- Pencegahan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT).
- Pengelolaan risiko hukum pada kontrak dan perjanjian transaksi keuangan.
- Tata kelola keterbukaan informasi dan perlindungan data pribadi (PDP).
Modul 10: Reputational & Strategic Risk Management
- Identifikasi eskalasi krisis media sosial dan dampaknya pada brand equity.
- Penanganan keluhan pelanggan sebagai sinyal dini risiko reputasi.
- Pengelolaan risiko penyesuaian model bisnis dan kompetisi fintech.
- Strategi komunikasi krisis kepada publik dan regulator.
Modul 11: Sustainable Finance & ESG Risk Integration
- Kerangka kerja keuangan berkelanjutan dan taksonomi hijau OJK.
- Integrasi risiko lingkungan dan sosial ke dalam proses underwriting kredit.
- Pengukuran efek perubahan iklim terhadap nilai agunan dan kapasitas debitur.
- Pelaporan kinerja ESG bank secara transparan dan akuntabel.
Modul 12: Integrated Risk Dashboard & Reporting
- Desain Management Information System (MIS) risiko yang terintegrasi.
- Teknik penyusunan Executive Risk Report untuk Board level.
- Pengambilan keputusan bisnis berbasis data risiko (Risk-Adjusted Performance Measurement / RAPM).
- Studi kasus komprehensif: Simulasi penanganan krisis perbankan terpadu.
Output Kompetensi Peserta
- Mampu merumuskan Risk Appetite Framework yang seimbang antara pertumbuhan aset dan mitigasi risiko.
- Terampil menghitung parameter risiko kredit (PD, LGD, EAD) serta dampak CKPN terhadap laporan keuangan.
- Mampu merancang dan mengeksekusi simulasi Stress Testing likuiditas sesuai standar regulator.
- Sanggup menyusun dokumen RCSA, KRI, dan LED untuk memperkuat ketahanan operasional bank.
- Memiliki kapasitas mengevaluasi tingkat kepatuhan regulasi OJK/BI secara menyeluruh pada produk perbankan.
- Mampu menyusun skenario Contingency Funding Plan dalam merespons tekanan likuiditas.
- Sanggup memeta dan memitigasi risiko IT, siber, serta ketergantungan pada vendor eksternal.
- Mampu menyajikan laporan risiko terpadu secara lugas kepada pimpinan puncak dan dewan komisaris.
Metode Pelatihan Risk Management Perbankan
Program dilaksanakan melalui pendekatan pembelajaran interaktif berbasis pengalaman praktis. Metode mencakup pemaparan konsep strategis, pembekalan studi kasus riil industri perbankan nasional/global, simulasi perhitungan kuantitatif, diskusi kelompok terarah, serta latihan penyusunan krisis perbankan. Peserta didorong untuk membawa isu nyata di bank masing-masing untuk dibedah secara konfidensial bersama instruktur praktisi senior.
Implementasi di Organisasi/Perusahaan
Pasca pelatihan, peserta akan dibekali toolkit manajemen risiko yang dapat langsung disesuaikan dengan kebutuhan institusi. Tim risk management dan bisnis dapat segera melakukan re-alignment kebijakan credit underwriting, memperbarui template RCSA operasional, merevisi parameter KRI, serta memperkuat koordinasi ALCO harian. Langkah-langkah ini memastikan bahwa hasil pembelajaran langsung mentransformasi proses kerja internal secara terukur.
Durasi & Fasilitas Pelatihan Risk Management Perbankan
Durasi: 3 Hari (Total 24 Jam Efektif).
Fasilitas: Sertifikat Keikutsertaan Resmi, Modul Materi & Worksheet Perhitungan (Softcopy & Hardcopy), Kumpulan Regulasi Perbankan Terkait, Template Risk Dashboard & Stress Testing Excel Tool, Executive Briefing Pack, Lunch & Coffee Break 2x sehari selama pelatihan offline.
FAQ (Frequently Asked Questions) terkait Risk Management Perbankan
1. Apakah pelatihan ini sesuai untuk bank skala menengah atau BPR?
Sangat sesuai. Kerangka materi disesuaikan agar dapat diterapkan pada bank komersial besar, bank daerah (BPD), maupun Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dengan skala penyesuaian yang proporsional.
2. Apakah materi pelatihan mencakup aturan terbaru dari OJK dan Bank Indonesia?
Ya, seluruh materi di-update sesuai dengan surat edaran dan peraturan OJK/BI terbaru tahun 2026 yang mengatur manajemen risiko dan kepatuhan.
3. Bagaimana pelatihan ini membantu mengurangi kredit macet (NPL)?
Pelatihan ini memberikan metodologi evaluasi kualitatif dan kuantitatif kredit secara mendalam serta strategi Early Warning System untuk mendeteksi pemburukan debitur sebelum menjadi NPL.
4. Apakah peserta perlu membawa data bank sendiri untuk latihan?
Peserta diperbolehkan membawa data dummy atau data teranonimasi untuk latihan simulasi stress testing agar analisis terasa lebih relevan.
5. Apakah ada pembahasan mengenai risiko siber dan transaksi digital?
Ya, risiko siber dan ketahanan operasional sistem digital merupakan bagian utama dari modul Manajemen Risiko Operasional.
6. Kualifikasi instruktur yang mengajar program ini seperti apa?
Instruktur adalah praktisi senior berpengalaman lebih dari 15 tahun di bidang Risk Management & Compliance perbankan nasional dan multinasional.
7. Apakah ada latihan pembuatan laporan risiko untuk jajaran Direksi?
Ada, Modul 12 secara khusus melatih peserta membuat Executive Risk Dashboard yang siap dipresentasikan kepada Board of Directors.
8. Bagaimana cara mengukur tingkat keberhasilan setelah mengikuti pelatihan?
Keberhasilan diukur dari peningkatan kualitas mitigasi risiko, kelengkapan dokumen RCSA/KRI internal, serta penurunan insiden kerugian operasional di organisasi.
9. Apakah materi mencakup perhitungan rasio likuiditas LCR dan NSFR?
Ya, rumus dan mekanisme pemantauan LCR serta NSFR dikaji secara praktis dalam modul Manajemen Risiko Likuiditas.
10. Bagaimana skema pendaftaran in-house training untuk tim internal bank kami?
In-house training dapat dijadwalkan secara fleksibel dengan materi yang dispesifikasikan khusus sesuai dengan profil risiko bank Anda.
🔥 Cakupan Pelaksanaan Program Training
Program pengembangan kompetensi ini dirancang untuk membantu organisasi meningkatkan efektivitas kerja, mempercepat proses operasional, memperkuat koordinasi lintas fungsi, serta meningkatkan kemampuan tim dalam menghadapi perubahan bisnis yang semakin dinamis. Pelaksanaan program dapat disesuaikan dengan kebutuhan, tingkat kompetensi peserta, target organisasi, serta tantangan operasional yang dihadapi masing-masing perusahaan.
⚡ Skema Pelaksanaan Training
| Skema | Deskripsi | Manfaat Organisasi |
|---|
| In-Class Training | Pembelajaran terstruktur berbasis materi, studi kasus, dan diskusi interaktif | Transfer knowledge lebih cepat dan sistematis |
| In-House Training | Program disesuaikan dengan SOP, workflow, dan kebutuhan bisnis perusahaan | Materi lebih relevan dan langsung dapat diterapkan |
| Workshop Intensif | Praktik langsung berbasis tantangan dan kasus nyata organisasi | Peningkatan kemampuan problem solving dan implementasi |
| On The Job Assistance | Pendampingan implementasi langsung dalam aktivitas kerja | Mempercepat penerapan hasil pelatihan dalam operasional |
📍 Cakupan Wilayah Pelaksanaan
| Jakarta | Bandung | Surabaya | Semarang |
| Yogyakarta | Medan | Makassar | Denpasar |
| Balikpapan | Batam | Palembang | Pekanbaru |
⚠️ Mengapa Banyak Program Pengembangan Kompetensi Tidak Memberikan Dampak Maksimal?
Dalam banyak organisasi, tantangan utama bukan hanya terletak pada teknologi, sistem, atau kebijakan yang digunakan, melainkan pada kemampuan tim dalam menerapkan strategi, menjalankan proses kerja secara konsisten, serta menjaga kualitas eksekusi di lapangan.
Akibatnya, berbagai inisiatif perbaikan sering kali berjalan lebih lambat dari yang diharapkan, target operasional sulit tercapai secara optimal, dan peluang peningkatan kinerja tidak termanfaatkan secara maksimal.
📊 Pola Tantangan yang Umum Ditemukan di Perusahaan
| Area | Tantangan Umum | Dampak terhadap Organisasi |
|---|
| Proses Kerja | Alur kerja belum optimal atau terlalu kompleks | Produktivitas menurun dan waktu kerja lebih panjang |
| Koordinasi | Kolaborasi antar fungsi belum berjalan efektif | Duplikasi pekerjaan dan meningkatnya revisi |
| Implementasi | Pengetahuan belum diterapkan secara konsisten | Perbaikan tidak menghasilkan dampak optimal |
| Monitoring | Evaluasi dan pengukuran kinerja belum terstruktur | Sulit mengendalikan pencapaian target |
💡 Pendekatan Pengembangan yang Banyak Digunakan Organisasi Berkinerja Tinggi
Salah satu pendekatan yang banyak diterapkan organisasi modern adalah pengembangan kompetensi berbasis implementasi, yaitu program pelatihan yang tidak hanya fokus pada pemahaman konsep, tetapi juga membantu peserta menerjemahkan materi menjadi tindakan nyata yang relevan dengan kebutuhan pekerjaan sehari-hari.
Melalui pendekatan ini, organisasi dapat mempercepat proses adopsi perubahan, meningkatkan kualitas eksekusi, memperkuat kolaborasi tim, dan menghasilkan dampak yang lebih terukur terhadap kinerja bisnis.
Contohnya melalui program Training Risk Management Perbankan 2026: Strategi Mengelola Risiko Kredit, Operasional, Likuiditas, dan Kepatuhan Bank yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan organisasi untuk mendukung peningkatan efektivitas kerja, efisiensi proses bisnis, serta pencapaian target operasional maupun strategis perusahaan.
🔧 Model Pendekatan Pengembangan Kompetensi
| Pendekatan | Fokus Utama | Manfaat |
|---|
| Process Improvement | Penyempurnaan proses kerja | Operasional lebih cepat dan efisien |
| Capability Development | Peningkatan kompetensi SDM | Kinerja individu dan tim meningkat |
| Operational Alignment | Keselarasan strategi dan pelaksanaan | Implementasi lebih konsisten |
| Performance Optimization | Peningkatan hasil kerja dan produktivitas | Target organisasi lebih mudah dicapai |
🎯 Konsultasi Kebutuhan Training & Langkah Selanjutnya
Setiap organisasi memiliki tantangan, prioritas, dan target pengembangan yang berbeda. Karena itu, menentukan program pelatihan yang tepat sebaiknya diawali dengan pemetaan kebutuhan agar solusi yang dipilih benar-benar relevan dengan kondisi dan tujuan perusahaan.
Banyak perusahaan baru melakukan pengembangan kompetensi setelah muncul hambatan operasional, penurunan produktivitas, atau ketidaksesuaian antara strategi dan implementasi. Padahal, identifikasi kebutuhan sejak awal dapat membantu organisasi mengambil langkah perbaikan lebih cepat sebelum dampaknya menjadi lebih besar.
Konsultasi awal dapat membantu organisasi memperoleh gambaran kebutuhan pengembangan yang lebih tepat tanpa kewajiban mengikuti program pelatihan tertentu.
📋 Melalui konsultasi, organisasi dapat memperoleh:
✔ Identifikasi kebutuhan kompetensi yang perlu diperkuat
✔ Rekomendasi program yang paling relevan dengan tantangan organisasi
✔ Alternatif metode pelaksanaan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan
✔ Gambaran ruang lingkup implementasi yang lebih terukur
✔ Masukan awal untuk penyusunan rencana pengembangan SDM
📌 Penutup
Keunggulan organisasi tidak hanya ditentukan oleh strategi yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan tim dalam mengeksekusi strategi tersebut secara konsisten, efektif, dan terukur. Karena itu, investasi pada pengembangan kompetensi yang tepat dapat menjadi langkah penting untuk memperkuat kinerja, meningkatkan produktivitas, serta mendukung pertumbuhan organisasi secara berkelanjutan.
Untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai pelaksanaan, kebutuhan in-house training, workshop, maupun program pengembangan kompetensi yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan, silakan menghubungi tim kami.
✉️ Email: info@pelatihannasional.com
📞 WhatsApp: 0821-3989-6194